Rembuk Stanting Penting Untuk Meraih Generasi Emas



Aceh Barat – Upaya percepatan penurunan stunting kembali diperkuat melalui kegiatan Rembuk Stunting Desa Pasi Tunong Kecamatan Mereubo yang digelar pada, 25 Juli 2026 bertempat di Aula Kantor Desa Kegiatan strategis ini mengusung tema besar **“Bersinergi Cegah Stunting, Wujudkan Generasi Emas yang Sehat, Cerdas, dan Berdaya Saing”.

Acara ini dihadiri oleh jajaran Forkopimca, Kepala Desa beserta perangkat, Ketua TP-PKK Desa, Bidan Desa, Tenaga Gizi Puskesmas, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB/PLKB), Kader Posyandu, Kader Pembangunan Manusia (KPM), Pendamping Desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta perwakilan keluarga yang memiliki ibu hamil, baduta, dan balita berisiko stunting.

Rembuk Stunting merupakan amanat dari Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan menjadi forum musyawarah yang wajib dilaksanakan desa/kelurahan sebagai forum konvergensi untuk membahas hasil analisis situasi stunting dan merumuskan rencana aksi yang terintegrasi.

Stunting Bukan Sekadar Urusan Tinggi Badan

Dalam sambutan dan arahannya, Maimun S.Stp Camat Mereubo menegaskan bahwa pemahaman masyarakat tentang stunting harus diluruskan.

“Selama ini banyak yang mengira stunting hanya soal anak pendek. Padahal jauh lebih berbahaya dari itu. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh dan kembang pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak dalam kandungan 270 hari hingga anak berusia 2 tahun atau 730 hari,” tegasnya.

Ia menambahkan, anak yang mengalami stunting akan memiliki dampak jangka panjang yang permanen. Secara fisik, anak lebih rentan terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi di usia dewasa. Secara kognitif, perkembangan otak tidak optimal sehingga kemampuan belajar dan daya saing rendah.

“Bagaimana kita mau mewujudkan Generasi Emas 2045, Indonesia yang maju dan unggul, jika generasi penerusnya hari ini dibiarkan stunting? Kuncinya ada di kita semua yang hadir di ruangan ini,” tambahnya.

Paparan Data dan Fakta di Lapangan

Sesi inti diisi dengan pemaparan data oleh Tim Konvergensi Stunting Desa. Berdasarkan hasil penimbangan dan pengukuran serentak di Posyandu serta data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) Puskesmas Kecamatan Mereubo, disampaikan bahwa:

1. Terdapat balita yang terindikasi stunting dan keluarga berisiko stunting.[Jumlah] 2. Faktor risiko dominan yang ditemukan adalah: anemia pada ibu hamil dan remaja putri, rendahnya praktik ASI eksklusif, pola asuh pemberian MP-ASI yang tidak tepat, sanitasi lingkungan yang belum layak (masih ada jamban tidak sehat), serta rendahnya akses air bersih. 3. Masih ditemukan pernikahan usia dini yang meningkatkan risiko melahirkan anak stunting. 

Menanggapi hal tersebut, Ahli Gizi Puskesmas menjelaskan konsep Intervensi Spesifik dan Sensitif. Intervensi spesifik seperti pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk remaja putri dan ibu hamil, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal tinggi protein hewani, pemantauan tumbuh kembang, dan imunisasi. Sedangkan intervensi sensitif meliputi penyediaan air bersih dan sanitasi, edukasi ketahanan pangan keluarga, dan penguatan ekonomi keluarga.

5 Komitmen Hasil Rembuk Stunting 2026

Setelah diskusi panjang yang partisipatif, forum Rembuk Stunting menghasilkan Berita Acara dan 5 Komitmen Bersama yang disepakati untuk dimasukkan dalam RKPDesa Tahun Anggaran 2027:

PERTAMA, Gerakan Peduli 1000 HPK. Mengaktifkan kembali dan mengoptimalkan Kelas Ibu Hamil, Kelas Ibu Balita, dan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) di setiap dusun. Setiap ibu hamil akan didampingi oleh kader secara one-on-one.

KEDUA, Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). Memaksimalkan pemanfaatan Dana Desa untuk PMT lokal berbahan dasar ikan, telur, ayam, dan daun kelor yang bersumber dari pekarangan dan UMKM lokal, bukan hanya biskuit pabrikan.

KETIGA, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Target 100% Open Defecation Free (ODF) dan pembangunan jamban sehat bagi KK yang belum memiliki, serta perbaikan sumber air bersih.

KEEMPAT, Penguatan Posyandu Prima. Revitalisasi Posyandu menjadi Posyandu era baru yang buka tidak hanya untuk menimbang, tetapi juga untuk edukasi, konseling gizi, dan skrining kesehatan remaja. Kader akan diberikan insentif dan pelatihan berkelanjutan.

KELIMA, Pencegahan Hulu. Gerakan minum TTD seminggu sekali bagi remaja putri di SMP/SMA, pendampingan intensif bagi Calon Pengantin (Catin) minimal 3 bulan sebelum menikah melalui aplikasi Elsimil, dan sosialisasi pendewasaan usia perkawinan.

Acara diakhiri dengan penandatanganan Komitmen Bersama Percepatan Penurunan Stunting oleh seluruh peserta. Semua pihak sepakat bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan atau pemerintah desa saja, melainkan kerja kolaboratif pentahelix: pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media.

Dengan terlaksananya Rembuk Stunting ini, diharapkan angka prevalensi stunting di Desa Padi Tunong dapat turun signifikan menuju target nasional di bawah 14% dan mewujudkan cita-cita besar Generasi Emas 2045 yang dimulai dari anak-anak yang sehat, cerdas, kuat, dan berakhlak mulia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musdes Gampong Teupin Panah, Warga Keluhkan Jalan Rusak ke Pemkab Aceh Barat

Pembekalan Pengelolaan Keuangan BUMG Gampong Cot Aceh Barat oleh TAPM P3MD Kementerian Desa Kab Aceh Barat.

Musdes Gampong Mesjid Bahas Prioritas Penggunaan Dana Desa 2026